Kampung Long Lanuk merupakan salah satu kampung tertua di Kecamatan Sambaliung bahkan di Berau. Suku asli yang menetap di wilayah Long Lanuk adalah suku Dayak Ga’ai. Sebelum bermukim di wilayah Long Lanuk, suku dayak Ga’ai berasal dari hulu Sungai Kelay yang bernama Kung Kemul. Kung Kemul adalah daerah hulu sungai tempat bertemunya segala sungai yang ada di Kalimantan Timur (Berau khususnya). Seiring berjalannya waktu, suku dayak menyebar dari Kung Kemul mengikuti aliran sungai menuju ke hilir dan berpindah-pindah tempat tinggal menyesuaikan dengan lokasi yang daerahnya banyak ditemukan pohon buah dan hewan buruan. Menurut penuturan Bukai Lung Yabudeang dan Nyuk Long Ba (Mantan Kepala Kampung periode 1998-......), pada masa kerajaan dayak, suku Dayak Gaai pernah berpindah-pindah lokasi pemukiman dari daerah hulu Sungai Kelay menuju hilir hingga ke muara Sungai Bebanir, lalu naik kembali menuju hulu Sungai Kelay. Masih pada masa kerajaan dayak Gaai, saat itu pemukiman Kerajaan Dayak Gaai berada di wilayah “Long Emleang” atau kerap disebut Meraang. Setelah beberapa lama tinggal di Meraang, ada kejadian bencana alam (kebakaran) dan wabah penyakit yang menyebabkan masyarakat harus berpindah lagi mencari tempat pemukiman baru. Saat itu, masyarakat kerajaan terbagi menjadi dua kelompok, satu kelompok mengikuti Raja pindah ke daerah Tumbit Dayak dan kelompok lainnya memilih untuk bermukim di daerah Tanah Merah mengikuti Raja Ping Lawung (Pahlawan yang pernah mengusir penjajah Belanda namun tidak tercatat oleh sejarah bangsa hanya sering diperbincangkan oleh masyarakat Long Lanuk).
di depan orang tersebut, orang dayak gaai meyakini bahwa jerat yang dipasangnya di hutan telah menjerat hewan buruan. Pun dengan jenis burung lainnya yang membawa kabar baik ataupun buruk.
Dari ketiga utusan yang diembankan misi untuk mencari lokasi potensial, lokasi yang ditemukan dan ditempati oleh Jong Bahela-lah yang memenuhi semua syarat yang ditentukan tersebut. Misi telah tercapai, sejak saat itu masyarakat dayak Gaai dari Tanah Merah berpindah ke lokasi baru tersebut. Belum ada nama lokasi pemukiman baru tersebut, namun karena di tengah pemukiman terdapat pohon beringin besar yang bahasa dayaknya elnuk, maka sejak saat itulah lokasi baru tersebut bernama Long Elnuk. Penyebutan Long Elnuk diserap ke Bahasa Indonesia menjadi Long Lanuk yang secara harfiah artinya adalah wilayah di pesisir sungai Kelay yang berada pohon beringin dimuaranya.
Sejak pemindahan pemukiman dari Tanah Merah ke lokasi baru tersebut, diangkatlah Yok But sebagai pemimpin kampung Long Lanuk atas dasar kesepakatan masyarakat kampung. Untuk pemimpin kampung selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Data Pemimpin Kampung Long Lanuk
|
No.
|
Nama Pemimpin Kampung
|
Periode Jabatan
|
Keterangan
|
|
1.
|
Lang Bobliang (Bogoi)
|
-
|
Masa jabatan sampai meninggal
|
|
2.
|
Tebgun (Mambot)
|
-
|
Masa jabatan sampai meninggal
|
|
3.
|
Engkek (Eng)
|
1961-1974
|
|
|
4.
|
Lung Deau bleau (Lung Deau)
|
1981-1986
|
Meninggal dalam masa jabatan, diteruskan Sekdes
|
|
5.
|
Jiu Ya (Jiu)
|
1987-1989
|
|
|
6.
|
Nyuk Long Ba (Nyuk)
|
1989-1999
|
|
|
7.
|
Bandolan (Ndul)
|
1999-2005
|
|
|
8.
|
Antonius (Heatlai)
|
2005-2017
|
|
|
9.
|
Solaiman. S.Sos (Jiang Long Dom)
|
2017-2023
|
|
Pada tahun 1992, ada sepuluh orang warga yang berasal dari daerah Merasa Dalam mendatangi Kepala Kampung Nyuk Long Ba untuk meminta izin menggarap lahan di muara sungai Nyapa. Tiga diantara sepuluh orang yang bertemu untuk meminta izin kepada Pak Nyuk Long Ba diantaranya adalah Pak Sudin, Pak Pimang (Tamen Yusup), dan Pak Puy. Mereka menjadi pelopor yang menggarap lahan di wilayah Nyapa dengan menanami
Di Tanah Merah inilah lokasi kampung lama Long Lanuk berada. Setelah beberapa lama mendiami daerah Tanah Merah, terjadi wabah penyakit yang menyebabkan banyak anggota masyarakat meninggal dunia. Oleh pembesar kampung saat itu, diutuslah tiga tokoh yang dipercayakan untuk mencari lokasi kampung yang baru. Tiga tokoh tersebut diantaranya Kean Ngau, Jong Bahela, dan Yok But. Ketiga tokoh tersebut diharuskan mencari calon lokasi kampung yang harus memenuhi dua belas syarat lokasi tersebut cocok untuk dijadikan pemukiman. Beberapa syarat penentuan lokasi kampung tersebut diantaranya adalah ditemukannya lipan, ditemukannya ular, ditemukannya kijang, ditemukannya payau, ditemukannya dua jenis burung sisit yang mempunyai suara yang berbeda, ditemukannya dua jenis burung teljan yang mempunyai suara yang berbeda, ditemukannya dua jenis burung Gisawyang mempunyai suara yang berbeda, dan ditemukannya elang yang berputar diatas wilayah yang potensial untuk dijadikan kampung.
Keduabelas syarat yang ditentukan, tersebut memiliki arti yang berbeda-beda. Sebagai contoh, dengan ditemukannya payau dan kijang di daerah tersebut, berarti sumber hewan buruan di sekitar calon lokasi pemukiman tidak akan kekurangan hewan buruan. Terkait jenis dan suara burung, orang dayak Gaai menyakini bahwa burung tertentu membawa pertanda tentang suatu kejadian yang akan terjadi. Sebagai contoh, suara burung sisit yang telah melintas tiga kali di depan orang dayak dipercaya sebagai pembawa kabar rejeki. Ketika seseorang memasang jerat di hutan, kemudian ada burung sisit tiga kali lewat
tanaman tiga bulanan serta padi gunung. Setelah sekitar dua tahun menggarap lahan wilayah di Nyapa dan usahanya berhasil, para pelopor tersebut berinisiasi untuk kembali ke Merasa Dalam untuk mengajak warga lainnya membuka ladang dan membuat pemukiman di Nyapa. Kebetulan pada saat itu ada program Pemukiman Kembali Masyarakat Tertinggal (PKMT) dari Kementrian SosialRI untuk membuat pusat pemukiman bagi masyarakat suku dayak yang nomaden.
Pada tahun 1996, sepuluh orang yang awalnya meminta izin menggarap lahan di Nyapa mendatangi Kepala Kampung saat itu Pak Nyuk Long Ba, untuk meminta izin kembali membangun pemukiman di Nyapa. Setelah mendapatkan izin dari Pak Nyuk Long Ba, diputuskan bahwa Nyapa Indah dinyatakan sebagai dusun dari Kampung Long Lanuk dan diresmikan beberapa rumah PKMT pada tahun 1997. Kebanyakan penduduk di Nyapa Indah saat itu berasal dari Bulungan pindahan dari Merasa Dalam dan dari daerah Long Noran.Pada periode tahun 1997 – 2003 wilayah Nyapa Indah merupakan dusun dari Kampung Long Lanuk dengan jumlah 90 KK yang terbagi dalam tiga RT. Setelah tahun 2003 sebagian masyarakat pindah ke Kampung Siduung Indah (Dusun Apau Indah) karena konflik internal di masyarakat. Hingga saat ini tersisa sekitar 62 KK yang tercatat sebagai penduduk di Nyapa Indah dengan dua wilayah RT.